Home » » Mari Bersatu Berantas Tuberkulosis

Mari Bersatu Berantas Tuberkulosis

Written By Aisyiyah Peduli on Sabtu, 10 November 2012 | 06.55





Oleh: Nurhayati Azis (Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulsel)

“Hari gini, masih ada Tuberkulosis?”, demikian sms seorang sahabat ketika membaca berita salah satu media cetak tentang aktivitas penanggulangan Tuberkulosis (TB) yang digelar oleh Aisyiyah. Keheranan tersebut mungkin cukup beralasan, karena mungkin selama ini banyak kalangan menganggap bahwa TB adalah penyakit masa lalu, penyakit masyarakat yang masih terbelakang. Sedangkan pada Abad 21 telah bermunculan sekian banyak penyakit kontemporer, yang nama penyakitnya terdengar keren dan efeknya lebih mengerikan.

Berhubung sahabat tersebut adalah seorang “scientific minded”, saya pun membalas smsnya dengan mengutip data WHO (2008), “Tahukah anda bahwa di Indonesia setiap hari sekitar 300 orang meninggal karena TB? Tahukah anda bahwa di Indonesia setiap tahun sekitar 100.000 orang meninggal karena TB? Tahukah anda bahwa lebih dari setengah juta pasien TB baru di Indonesia setiap tahun? Tahukah anda bahwa total pasien TB di Indonesia lebih dari 600.000 orang? Tahukah anda bahwa TB adalalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan peringkat 3 dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia? Tahukah anda bahwa sebagian besar penderita TB adalah usia produktif yang berusia 15-55 tahun?” 

Mungkin jumlah orang yang memiliki pemahaman seperti sahabat saya diatas masih sangat besar. Alasan itulah yang menjadi salah satu pertimbangan mengapa peringatan bahaya TB harus senantiasa dikumandangkan, termasuk melalui momentum peringatan Hari TB Se-Dunia yang jatuh pada 24 Maret. Tanggal ini ditetapkan sebagai hari TB se-Dunia untuk memperingati jasa Dr. Robert Koch yang menemukan kuman Mycobacterium tuberculosis sebagai penyebab tubekulosis oleh pada tahun 1882.
 

Penemuan Koch menjadi sangat bersejarah, karena dengan demikian maka proses pengobatan dan penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan. Hari itu kemudian diperingati setiap tahun untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat dunia untuk meningkatkan kesadaran tentang TB. Masyarakat diingatkan untuk waspada dengan masalah TB, berusaha mencari solusinya dan terus berupaya menanggulangi penyakit ini. 

Kiprah Aisyiyah
Upaya penanggulangan TB bukan hanya menjadi tugas pemerintah, namun menjadi tugas segenap komponen masyarakat. Salah satu elemen masyarakat sipil yang selama ini cukup konsen dalam pemberantasan TB adalah ‘Aisyiyah. Sebuah organisasi perempuan Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 27 Rajab 1426 H bertepatan dengan 19 Mei 1917. Alasan ‘Aisyiyah terjun dalam penanggulangan penyakit TB didorong oleh perintah Al-Quran dalam Surat Al –Maidah ayat 32: “…Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…”
Selama ini, ‘Aisyiyah telah melatih beberapa komponen untuk penanggulangan TB, yakni Kader TB, Tokoh agama (Toga) dan Pengawas Menelan Obat (PMO). Kader TB berperan melakukan penyuluhan, penemuan suspek (orang yang diduga TB), dan mendampingi pemeriksaan dahak. PMO membimbing pasien untuk mau sehat dengan minum obat teratur dan periksa ke Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) sampai sembuh, diperkuat dengan peran tokoh agama melalui upaya motivasi spiritual kepada jama’ahnya dan masyarakat secara luas untuk terlibat memerangi TB. Tidak kalah pentingnya adalah upaya Aisyiyah untuk meningkatkan jumlah UPK non Pemerintah yang menggunakan Strategi DOTS (Directly Observed Tratment Shor-course) secara optimal.
Peran ‘Aisyiyah tersebut mengundang perhatian para dewan juri Millennium Development Goals (MDGs) Award 2011 yang diprakarsai oleh Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs. Oleh karenanya, Aisyiyah dianugerahi penghargaan khusus katagori lembaga swadaya masyarakat atas peran sertanya dalam pencapaian target MDGs di Indonesia. MDGs award untuk penghargaan khusus ini diberikan langsung oleh Wakil Presiden Boediono didampingi oleh Utusan Khususu Presiden RI untuk MDGs Nila Moeloek dan Menko Kesra Agung Laksono pada acara malam penganugrahan MDGs Award 2011 di Balai Kartini, Jakarta (01/02/2012).
Hingga kini ‘Aisyiyah tetap konsen mengupayakn mengupayakan kemandirian masyarakat berantas TB. Spirit ini akan menjiwai kegiatan penanggulangan TB ‘Aisyiyah, dimana upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat akan terus dilakukan melalui program ini selama setahun kedepan. Aisyiyah pun akan terus menginisiasi pembentukan dan pengembangan Kelompok Masyarakat Peduli TB. Mari Bersatu Berantas Tuberkulosis!
Share this article :

Terpopuler

 
Bersama TB Aisyiyah Sulsel
Membangun Kemandirian Masyarakat Berantas Tuberculosis
Copyright © 2012 - 2017. Aisyiyah Peduli - All Rights Reserved