Home » » “Saya Ingin Berantas TB di Karuwisi Utara”

“Saya Ingin Berantas TB di Karuwisi Utara”

Written By Aisyiyah Peduli on Jumat, 09 November 2012 | 01.55









“Dalam menjalankan tugas, saya biasa diolok-olok oleh warga sebagai kader pengumpul karra’ (dahak)”.

Bagi Karmila, 42 tahun, memberantas tuberculosis di Karuwisi Utara adalah cita-citanya. Gerakannya gesit, tutur kata getas, ibu yang tampak jauh lebih muda dari usianya ini seakan tak habis tenaga untuk menemukan suspek di lorong-lorong Karuwisi. Kini Karmila telah menemukan 55 suspek penyakit nomor tiga di dunia, setelah penyakit jantung dan pernafasan akut.

Ia resmi menjadi kader ‘Aisyiyah sejak ikut training TB di Hotel Bumi Asih pada Desember 2010. Dari situ ia memulai mendekati warga melalui ruang-ruang sosial, seperti pengajian, arisan dan penyuluhan. Apalagi saat ini Karmila memimpin KGM (Kelompok Gizi Masyarakat), membuatnya semakin dekat dengan warga. Setiap sosialisasi KGM, ia selalu gandengkan dengan penyuluhan TB.

Sebelum mengabdikan diri untuk para penderita TB, Karmila sempat mencoba menjadi kader HIV AIDS. Tapi niat sucinya tak bertahan lama, cuma tiga bulan ia bertahan dan mengundurkan diri karena merasa tugas kader HIV sangat berat. Keinginannya untuk selalu menolong ini sepertinya sudah terpupuk sejak usia muda, pada umur 18 tahun ia memulai karir sebagai petugas posyandu. “Pernah sekali membantu orang melahirkan, jadi untuk mengumpulkan dahak saja tak merasa takut dan jijik,” ujar Ibu yang pernah penghargaan dari Ilham Arif Sirajuddin, Walikota Makassar sebagai kader terbaik komunitas TB Aisyiyah tahun 2012. Sebelumya, ia pernah juga dapat hadiah paket panci dari pengurus Aisyiyah sebagai kader berkualitas.

Sepanjang 2011 Karmila menemukan 35 suspek. Tapi Maret lalu Karmila mengejutkan. Sebanyak 20 suspek ia jaring setelah menelusuri lorong RW 1, 7, dan 8, Karuwisi Utara dalam rentang waktu hanya sepekan. Karmila menyisir pemukiman berdasar dari laporan keluarga suspek saat penyuluhan. Dalam seminggu itu pernah dalam sehari dapat enam suspek sekaligus. “Yang kewalahan mengani suspek justru petugas kesehatan (Puskesmas Ujung Pandang Baru),” celoteh Karmila.

Dalam mencari suspek, banyak suka duka yang ia peroleh. Pernah suatu ketika ia mendatangi rumah bapak tua yang sering batuk-batuk. Lama ia berdiri di depan pintu rumah, tapi tak seperti tak terdengar. Ternyata bapak itu seorang tunarungu, sehingga Karmila kesulitan cara untuk menyampaikan informasi. “kita menyuruhnya untuk mengeluarkan dahaknya esok pagi, ia malah mengeluarkan dahak saat itu juga,” kata Karmila sembari tertawa.

“Banyak karakter yang kita dapatkan dari para penderita, ada yang suka marah-marah, ada yang pendiam, ada juga yang cepat akrab,” ungkap wanita kelahiran Makassar ini. Sejauh ini, ada enam pasien yang Karmila pantau proses penyembuhannya. Sudah empat orang yang sembuh, satu orang pengobatannya terputus lantaran keluar daerah, tapi sekarang memulai pengobatan lagi. “penderita ini kebanyakan adalah perokok aktif, suka minuman keras, selain itu kebanyakan mereka orang miskin dan tinggal di pemukiman padat penduduk,” lanjutnya.

Tentang pekerjaannya ini, Karmila kadang mendapat sorotan tak sedap dari keluarga. Tapi sekarang ceritanya sudah lain, pihak keluarga bahkan mendukung setiap langkah Karmila. Hanya saja, Karmila harus hati-hati dalam menjalankan tugasnya, seperti jika melakukan wawancara dengan penderita, ia harus menjaga jarak dan harus di luar rumah agar terkena sirkulasi udara lancar. Dahak-dahak yang dikumpulkan saat survei pun tak boleh ia simpan di dalam rumah, tapi harus di beranda luar.

“Sebagai orang kecil, cuma ini yang bisa saya lakukan buat orang banyak,” tutur karmila.


Idham Malik

Share this article :

Terpopuler

 
Bersama TB Aisyiyah Sulsel
Membangun Kemandirian Masyarakat Berantas Tuberculosis
Copyright © 2012. Aisyiyah Peduli - All Rights Reserved