Home » » Dokter Munawarah, Memfasilitasi dengan Hati

Dokter Munawarah, Memfasilitasi dengan Hati

Written By Aisyiyah Peduli on Sabtu, 01 Desember 2012 | 10.59



“Sebelumnya, kita (para dokter) menganggap semua penyakit sama. Ternyata TB berbeda, karena disembuhkan harus dengan hati,” kata dr. Sitti Munawarah.
            dr. Munawarah sadar akan hal itu setelah ia terlibat dalam program Tubercolosis (TB) sistem DOTS (Directly Observed Treatment) sejak akhir 2011 lalu. Penanganan tubercolosis menurutnya tidak seperti penyakit lain, sebab pasien harus diajak meminum obat selama enam bulan tanpa henti. Sehingga dokter harus dapat membesarkan hatinya dan mengurangi beban psikologinya.
“Biasanya para dokter ogah-ogahan jika pasien tak berminat meminum obat, sekarang kita harus care. Kalau tidak diobati, pasien bisa menularkan penyakitnya minimal sepuluh orang pertahun. Jadi, kita tidak hanya membantu pasien tapi juga membantu keluarganya yang memiliki potensi tertinggi tertular TB,” ungkap dokter alumni Universitas Hasanuddin (Unhas) ini.
Mulanya ia diajak Wahriyadi, seniornya di IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) untuk mengikuti pelatihan fasilitator TB di Jakarta pada 28 November – 3 Desember 2011, sebab selain aktif di Aisyiyah ia juga berlatar belakang dokter, sehingga dianggap mampu menyerap pengetahuan dasar penanganan tubercolosis. Sebelumnya ia sudah pernah mengikuti pelatihan TB mewakili Rumah Sakit Unit Darurat (RSUD) Syekh Yusuf Kab. Gowa, tempatnya bekerja selaku dokter umum. Dari pelatihan di Jakarta itu, ia mulai paham bahwa fasilitator mengambil peran memimpin proses, sembari menambahkan konten (informasi).
dr. Munawarah diajar cara melatih kader dengan menggunakan metode andragogi, yaitu pembelajaran untuk orang dewasa. Sehingga para kader diajak untuk mengutarakan terlebih dahulu pengetahuan mereka tentang TB. “Perkembangan selanjutnya, saya justru lebih dipercaya oleh kader, mungkin karena berlatar belakang dokter,” celoteh Munawarah, sembari terkekeh.
Dalam melatih kader, terdapat tambahan materi tambahan, yaitu komunikasi efektif. Kecakapan komunikasi para kader dibutuhkan untuk memecah kebuntuan psikologi para penderita, yang kebanyakan masih malu-malu mengutarakan penyakitnya. Selain itu dalam setiap pelatihan kader dan PMO, selalu diselingi dengan games/permainan untuk mencairkan suasana (ice breaker), juga bertujuan untuk mendekatkan emosi para kader pencari suspect TB.   
Sepanjang 2012, dokter Munawarah telah memfasilitasi pelatihan kader sebanyak dua kali di makassar dan dua kali di Gowa, serta pelatihan PMO (Pengawas Minum Obat) dua kali di Makassar dan sekali di Gowa pula. “Satu kali saya tidak terlibat, yaitu waktu pelatihan PMO di Gowa. Saat itu kandunganku bermasalah, jadi saya lebih banyak istirahat,” ujar ibu tiga anak ini.
Hingga sekarang, para kader masih sering menghubungi dr. Munawarah, baik untuk koordinasi program TB, juga untuk urusan lain. akhirnya ia menjadi contact person di RS sekadar untuk konsultasi kesehatan pribadi, walau sebenarnya agak kesulitan menangani penyakit yang tidak bisa ia periksa secara langsung. Apalagi sekarang ia bertugas menangani penyakit TB di RSUD Syekh Yusuf, sehingga setiap ada pasien TB yang ke rumah sakit pasti akan menemuinya. “Kader sering menelpon kalau ada keluhan dari pasien, seperti ketika ada efek samping dari minum obat. Jika pasien tak bisa ditangani di Puskesmas, saya selalu bilang, bawa saja ke rumah sakit,” tambah dr Munawarah.
Sejauh ini, ia merasa bahagia terlibat dalam penanganan TB sistem DOTS ini, sebab ia bisa membantu memberi pelatihan tentang penanganan TB secara sistemik dan holistik, serta dapat menyumbangkan ilmunya selaku dokter untuk kesehatan masyarakat. Selain itu, ia gembira melihat semangat para kader. Di Gowa, pernah ada orang tua (ibu) yang menjadi kader dan tampak sangat bersemangat. Dalam dua minggu, ibu yang sudah melewati batas umur menjadi kader itu bisa menemukan sepuluh suspect/tersangka. “Tapi banyak hal lucu juga saat melatih para kader, pernah saya kerepotan mengajar pengisian berkas, soalnya ada kader tidak tamat Sekolah Dasar,” tambah Munawarah yang saat ini lagi hamil besar.
Pun dr Munawarah mengakui, banyak hikmah yang ia peroleh sepanjang mengikuti program berantas TB ini. “selaku dokter, saya belajar untuk tidak arogan dalam menangani penderita TB,” ungkap Munawarah diiringi senyum simpul.
Idham Malik      
     
Share this article :

Terpopuler

 
Bersama TB Aisyiyah Sulsel
Membangun Kemandirian Masyarakat Berantas Tuberculosis
Copyright © 2012 - 2017. Aisyiyah Peduli - All Rights Reserved