Home » » IRONI HIDUP PENDERITA TB

IRONI HIDUP PENDERITA TB

Written By Aisyiyah Peduli on Senin, 17 Desember 2012 | 05.48




Penyakit TB tidak membuatnya berhenti mencari nafkah

Ditengah kondisinya yang masih sakit Hamsal (19), harus tetap bekerja untuk dirinya dan ibunya, rencananya dia akan berangkat ke Sulawesi Tenggara, “ada panggilan dari tetangga untuk bekerja sebagai Tukang bangunan disana selama tiga bulan” ujar Hamsal.
Hamsal adalah anak ke empat dari empat bersaudara, semua kakanya sudah menikah, mereka sudah tidak tinggal bersama lagi, kini dia harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, ini menjadi alasannya untuk menerima pekerjaan yang diberikan oleh tetangganya.
Baru sebulan ini Hamsal mendapatkan perawatan intensif atas penyakit TB yang dideritanya,  Menurut Ibu Karmila(42), kader TB Aisyiyah “kondisi Hamsal belum sepenuhnya baik, perawatannya baru berjalan dua bulan, kondisinya masih cukup lemah, dia belum bisa untuk bekerja keras, apalagi selama tiga bulan”.
Dengan modal pendidikan yang hanya sampai kelas 3 sekolah dasar, tidak banyak pekerjaan yang dapat dilakukannya, hanya pada pekerjaan yang mengandalkan fisik dia bisa mendapatkan nafkah hidup, selama ini dia bekerja sebagai buruh bangunan, ikut pada siapa saja yang memanggilnya untuk bekerja.
Hamsal merasa sangat beruntung, dia mendapatkan teman-teman yang tidak menjauhinya saat tahu bahwa dia menderita penyakit TB, menurut Aslam (23), “ dia sahabat saya, sejak kecil kami sama-sama, saya tidak khawatir dengan penyakit TB yang dideritanya, saya mendorongnya untuk minum obat secara teratur, biar dia lebih cepat sembuh dan bisa bekerja kembali”
“ Keinginan anak saya Hamsal untuk sembuh sangat kuat, dia meminum obat secara teratur. Kami sangat terbantu dengan informasi yang diberikan oleh Kader TB aisyiyah, sehingga saya bisa lebih tahu cara pengobatan bagi Hamsal” tutur Hasna (45). Kedatangan kader TB Aisyiyah secara rutin untuk memberikan informasi terkait penyembuhan penyakit TB dirasa sangat membantu proses kesembuhan.
Hasna yang sehari-harinya bekerja sebagai Cleaning servis di Universitas Hasanuddin, sebenarnya tidak memberikan izin kepada anaknya untuk pergi bekerja ditempat yang jauh, “disana tidak ada  keluarga yang bisa mengawasi minum obatnya, khawatirnya bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan tidak ada yang bisa membantu” ujar Hasna. Namun desakan kebutuhan membuatnya tidak bisa menahan keinginan anaknya untuk pergi.
Keinginan Hamsal untuk menabung uang hasil kerjanya membuatnya sangat bersemangat untuk pergi merantau, walaupun sakit yang dideritanya masih membayangi. “Resikonya sangat tinggi bila dia tidak telaten menjaga waktu minum obatnya, dia bisa mengalami Multidrug resistant (MDR), dimana kondisinya akan menjadi semakin parah dan waktu pengobatannya akan menjadi semakin panjang” Ujar Karmila.
Share this article :

Terpopuler

 
Bersama TB Aisyiyah Sulsel
Membangun Kemandirian Masyarakat Berantas Tuberculosis
Copyright © 2012. Aisyiyah Peduli - All Rights Reserved