Home » » Pintu Klinik Selalu Terbuka untuk Penderita TB

Pintu Klinik Selalu Terbuka untuk Penderita TB

Written By Aisyiyah Peduli on Senin, 17 Desember 2012 | 05.15


Akademi Kebidanan Muhammadiyah Makassar tak hanya melatih calon bidan, tapi juga menyembuhkan penderita tuberculosis yang berobat di klinik-nya.

Sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, Akbid yang terletak di Jalan Pettarani tiga ini menerima suspek yang dibawa oleh para kader TB, lalu mengecek bakteri dahaknya di laboratorium untuk memastikan apakah pasien ini termasuk kategori BTA (Bakteri Tahan Asam) positif atau bukan. “Kami menerima pasien dengan kategori satu, kalau sudah kategori dua kami rujuk ke puskesmas terdekat, yaitu Puskesmas Tamammu dan Puskesmas Bara-Barayya, serta Rumah Sakit Labuang Baji,” ujar Bulan, Amk (24), petugas pencatat suspek dan penderita TB.
Bakteri yang ditemukan oleh Robert Koch pada 1882 ini dapat membunuh ribuan orang perhari. Sehingga, upaya penanggulangan TB harus dilaksanakan secara kolektif dan multipihak, baik itu dukungan dari pemerintah, maupun dari pihak swasta yang berkenaan dengan kesehatan masyarakat. Akbid Muhammadiyah mengambil peran itu, menyodorkan institusinya untuk pelayanan penderita TB secara prima dan tanpa dipungut biaya.
Sejak bergabung dalam program penanganan TB sistem DOTS, sepanjang tahun 2011 Klinik Akbid Muhammadiyah telah menyembuhkan sembilan penderita yang dirawat jalan selama enam bulan. Penderita yang telah sembuh ini adalah mereka yang dengan teratur meminum obat Paket OAT untuk ketegori 1, yaitu berisi kaplet RHZE yang mengandung Rifampicin 150 mg, isoniazid 75 mg, pirazinamid 400 mg dan etambutol 275 mg. Kaplet berjumlah enam blister yang digunakan selama 2 bulan. Kotak kedua untuk pengobatan tahap lanjutan, berisi tablet RH (Rifampicin 150 mg dan isoniazid 150 mg) sebanyak enam blister untuk digunakan selama 4 bulan. “Seorang pasien terpaksa minum obat selama 7 bulan, karena pada bulan kedua saat pemeriksaan dahak pertama masih mengandung BTA Positif, sehingga diberi sisipan sebulan,” ungkap Bulan. Pemeriksaan dahak dilakukan pada bulan ke dua, kelima dan ke enam. Ini dilakoni oleh Sulaiha, petugas laboratorium Klinik Akbid Muhammadiyah.
Namun, ada pula pasien yang menyerah dan berhenti minum obat atau DO. Pasien yang “putus” ini berjumlah tiga orang, seorang pemuda berusia 18 tahun berhenti karena malas minum obat lantaran sudah merasa nyaman setelah berobat selama dua bulan. “kader sudah memaksanya untuk terus minum obat, tapi dia tidak mau mengerti. Sayang sekali, padahal dia sudah jalan dua bulan,” ujar Bulan. Berikutnya yaitu ibu berusia 40 tahun, ia berhenti setelah berobat enam minggu. Alasannya karena ia mengidap komplikasi penyakit, seperti gondok, sehingga takut jika terus meminum obat TB dapat mempengaruhi gondoknya. Sementara yang satunya lagi adalah seorang bapak berumur 35 tahun, ia juga mengidap penyakit malas minum obat, katanya obatnya besar-besar dan ia sudah tidak tahan.
Namun, aktivitas penanganan TB di klinik ini mengalami penurunan pada 2012 ini. Para kader sudah jarang bertandang ke klinik, walaupun yang aktif masih ada sekitar 20 orang. “Mereka datang membawa suspek, tapi jarang yang betul-betul menemukan penderita. Suspek ada 40 orang yang ditemukan para kader, tapi yang betul diobati tahun 2012 ini belum ada,” tambah Bulan. Menurut Bulan, bisa jadi kader tidak membawa suspek ke klinik, tapi langsung ke puskesmas terdekat, seperti puskesmas Tammammu dan Bara-barayya. Sehingga jumlah penderita yang ditangani pun semakin berkurang.
Kader punya alasan terhadap kurangnya penderita yang ditangani tahun ini, “Kader masih biasa datang ke sini, tapi mereka selalu bilang kalau pasiennya sudah bagus,” ungkap Bulan. 
Di Akbid yang memiliki visi “menjadikan program studi kebidanan sebagai institusi unggul dan kompetitif untuk menghasilkan bidan trampil dan berahlak mulia” ini paling tidak sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap penyakit menular yang cukup ditakuti di dunia. Tinggal bagaimana pihak-pihak lain bisa lebih serius dalam berjuang, termasuk para kader harus terus disemangati agar tidak bosan dan lelah mencari suspek.
Idham Malik




Share this article :

Terpopuler

 
Bersama TB Aisyiyah Sulsel
Membangun Kemandirian Masyarakat Berantas Tuberculosis
Copyright © 2012. Aisyiyah Peduli - All Rights Reserved