Home » » Merengkuh Warga Penyandang Masalah Seksual Dalam Perspektif Islam

Merengkuh Warga Penyandang Masalah Seksual Dalam Perspektif Islam

Written By Aisyiyah Peduli on Rabu, 20 Juli 2016 | 22.11


Oleh: DR. Hamim Ilyas*)

Dalam Islam, sebagaimana dalam agama-agama lain, berkembang pandangan aku atau ortodoks bahwa orientasi seksual yang benar adalah hiteroseksual. Orientasi seksual yang lain baik itu homoseksualisme, lesbianism, biseksual maupun transgender atau transeksual dipandang sebagai penyimpangan dan kejahatan yang dikenai hukuman. Sementara dalam ilmu pengetahuan sejak tahun 60-an, orientasi seksual lain ini tidak dipandang sebagai penyakit, dan karenanya merupakan orientasi yang normal, bukan penyimpangan.

Dua pandangan yang saling bertentangan ini menjadi referensi dalam menentukan sikap dan tindakan terhadap mereka yang memiliki orientasi seksual nonhiteroseksual. Sebagian memandang mereka sebagai kriminal yang harus dihukum dan sebagian yang lain memandang mereka sebagai normal dan memiliki hak menikah dengan pasangan mereka. Kemudian di antara dua sikap yang saling bertentangan ada sikap tengah yang memandang mereka sebagai penyandang masalah seksual yang harus dibantu dalam mengatasi masalahnya.

Pandangan Buku

Dalam ortodoksi Islam ada pandangan baku yang dikemukakan oleh semua ulama Islam. Pandangan ini bertolak dari keyakinan tentang kodrat manusia diciptakan berpasang-pasangan (51: 49: 35: 11). Pasangan itu adalah pria dan wanita (53: 45). Dalam hubungannya dengan orientasi seksual, pandangan itu meyakini bahwa di antara potensi yang diberikan Allah kepada manusia dalam penciptaannya adalah potensi seksual berupa nafsu, kecenderungan dan kekuatan seksual. Al-Qur’an menyebut nafsu seks dengan istilah syahwat yang arti asalnya adalah ketertarikan jiwa kepada apa yang dikehendakinya (ar-Raghib al-Asfahani, t.t.: 277). Ketika mengisahkan teguran kepada kaum Sodom dan Gomoro, dia menyebutkan inna kum la ta’tunar rijala syahwatan min dunin nisa’, sesungguhnya kamu menggauli laki-laki dengan penuh nafsu (kepadanya), bukan kepada perempuan (al-A’raf, 7: 81).

Karena diberikan dalam penciptaannya, maka diyakini bahwa nafsu seks itu menjadi sesuatu yang naluriah dan alami bagi manusia. Naluri dalam al-Qur’an disebut wahyu, seperti naluri ibu untuk menyusui anak yang baru dilahirkannya (al-Qashash, 28: 7). Kemudian karena naluri bisa mengarahkan perilaku dan kehidupan manusia, Abduh menyebutnya sebagai hidayah. Dia menyatakan bahwa untuk menjalani kehidupannya, manusia diberi empat petunjuk: naluri (al-hidayah alfitriah), panca indera (hidayah al-hawas), akal (hidayah al-‘aql), dan agama (hidayah ad-din) (M. Rasyid Rida, 1975: I, hlm. 62-63).

Sebagai naluri, nafsu seks sudah barang tentu akan mendorong pemiliknya mempunyai orientasi dan perilaku seksual. Ada dua orientasi dan perilaku seksual yang disebutkan al-Qur’an. Pertama, “hiteroseksual”. Orientasi ini disebutkan dalam S. Ali Imran, 3: 14 yang menyatakan zuyyina lin nasi hubbus syahwati minan nisa…. (Dijadikan indah bagi manusia mencintai syahwat kepada perempuan…). Kedua, homoseksual, yang disebutkan dalam kisah umat Nabi Luth yang disebutkan di atas.

Para pendukung pandangan baku meyakini bahwa secara aksiologis kebaikan dan kebenaran hiteroseksual itu telah terbukti dalam sejarah. Dalil aksiologi menyatakan bahwa pengingkaran terhadap kebenaran itu pasti akan menimbulkan kehancuran. Sejarah kuno telah membuktikan bahwa kaum Sodom dan Gomoroh mengalami kehancuran karena Mempraktikkan homoseksualisme dan sejarah kontemporer menunjukkan bahwa kaum gay beresiko tinggi untuk\terserang AIDS yang mematikan. Alam di sekeliling manusia juga mendukung kebenaran itu. Binatang dan tumbuh-tumbuhan yang tidak mengenal budaya dan diciptakan dengan berpasang-pasangan seperti manusia, kawin secara hiteroseksual. Dua hal ini menunjukkan bahwa seksualitas (baca: hiteroseksual) merupakan sesuatu yang alamiah, bukan konstruksi sosial. Apabila tidak akan menimbulkan bencana bagi kehidupan manusia.

Pandangan Tidak Baku 

Di samping pandangan baku dalam ortodoksi itu, beberapa sarjana Muslim kontemporer mengemukakan pandangan yang tidak populer di kalangan umat. Di antara mereka adalah Faris Malik yang mengatakan bahwa al-Qur’an secara eksplisit itu menurutnya terhadap dalam surat asy-sura, 42: 49-50 yang dia terjemahkan sebagai berikut: “Hanya milik Tuhanlah segala apa yang ada di langit dan di bumi.  Tuhan menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia menyiapkan yang dikehendaki-Nya menjadi laki-laki. Atau Dia menggabungkan (karakteristik) laki-laki dan perempuan dan Dia juga menciptakan yangdikehendai-Nya menjadi tidak berketurunan. “Dia juga memperkuat pandangannya itu dengan menggunakan analog tumbuh-tumbuhan yang diciptakan Tuhan berpasang-pasangan, tapi ada sebagiannya yang tidak berpasangan (Yasir Alimi, 2004:xv-xvi).

Kemudian dalam hubungannya dengan homoseksualisme dan lesbianisme, Scoot Siraj al-Haqq Kugle, Omar Nahas, dan Amreen Jamal, menyatakan bahwa cerita tentang Nabi Luth sebenarnya tidak secara spesifik berkaitan dengan relasi seksual sejenis. Cerita itu menurut mereka berhubungan dengan kaum yang dihukum karena melakukan berbagai bentuk tingkah laku seksual yang dilarang, termasuk seks bebas dan fedofilia; perbuatan yang tidak baik terhadap tamu; penyalahgunaan kekuasaan; perkosaan dan intimidasi. Di samping itu hubungan seks sejenis juga mereka hubungkan dengan gambaran Al-Qur’an tentang kehidupan setelah mati. Beberapa ayat menyebutkan janji kepada orang yang beriman bahwa di surga mereka akan ditemani perempuan (bidadari) yang cantik dan laki-laki (bidadara) yang tampan. Menurut mereka ayat-ayat tersebut bias diinterpretasikan sebagai menunjuk pada hubungan seks sejenis di surge. (ibid: xxiv).

Merengkuh

Sampai sekarang pandangan baku dalam ortodoksi masih dan mungkin akan terus dominan dikalangan umat Islam. Pandangan itu sulit, untuk tidak mengatakan tidak mungkin, menerima transeksualisme, homoseksualisme, dan lesbianism sebagai realitas yang normal. Namun harus disadari bahwa sekarang agama tidak dibenarkan untuk memberangus orientasi seksual itu dengan paksaan dan kekerasan. Apabila pandangan tidak popular itu tidak dapat diterima, maka umat harus menyikapi realitas itu dengan merujuk Islam sebagai agama rahmat yang bertujuan mewujudkan kebaikan nyata bagi seluruh alam.

Dalam mewujudkan kebaikan nyata, Islam tidak selalu menggunakan pendekatan hukum. Ia juga menggunakan pendekatan dakwah dan kemanusiaan. Pendekatan dakwah diantaranya diterapkan untuk mewujudkan kualitas baik (al-Khair) semua bidang kehidupan (Ali-Imran, 3: 104), termasuk bidang seksualitas. Dakwah pada dasarnya merupakan kegiatan penyadaran yang dilakukan secara persuasif, bukan pemaksaan yang dilakukan dengan kekerasan. Penyadaran tidak hanya berhubungan dengan akal dan pikiran, tapi juga dengan hati dan rasa. Karena itu dakwah kepada para penyandang masalah seksual dilakukan untuk mewujudkan kualitas baik semua bidang kehidupan mereka, tidak hanya, budang seksualitas saja. Kemudian jika mereka mau mengubah orientasi seksual mereka, maka itu bukan karena paksaan dan ketakutan, tapi karena kesadaran pikiran dan hati mereka sendiri.

Dakwah demikian sejalan dengan pendekatan kemanusiaan yang dilakukan dengan penghormatan manusia sebagai manusia disertai usaha untuk memuliakannya. Pendekatan kemanusiaan ditegaskan dalam surat al-Ma’un dengan kegiatan dan sasaran kegiatan yang disebutkan dengan ungkapan: “tidak menghardik yatim” dan menganjurkan memberi makan si miskin”. Dalam Islam sebagai agama rahmat, ungkapan “tidak menghardik yatim” tidak hanya bermakna “tidak berkata kasar kepada anak yang ayahnya telah meninggal”, tapi dapat diperluas meliputi praktek dan subyek lain yang kualitas baik hidup mereka, betapapun kondisi mereka, harus diperhatikan.
Perluasan makna dapat menjadi “menghina dan meremehkan orang lemah yang tidak memiliki pelindung”. Perluasan makna ini berdasarkan kenyataan bahwa anak yatim merupakan representasi nyata dari manusia yang lemah dan memiliki kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi sendiri. Pada zaman Nabi dahulu disamping ada penyakit, kejahatan, dan laki-laki yang tidak bertanggung jawab, juga bnyak perang antar suku dan Negara dan banyak pengembaraan. Mengingat ini maka bisa dipastikan bahwa pada masa itu banyak anak yang menjadi yatim tidak hanya karena orang tuanya meninggal lantaran sakit, menjadi korban kejahatan atau gugur di medan perang, tapi juga lantaran ayah mereka merupakan pria yang tidak bertanggung jawab atau pergi mengembara dan tidak kembali lagi ke rumah. Karena itu pengertian yatim di zaman Nabi tentunya tidak terbatas pada “anak yang ditinggal mati oleh ayahnya” saja.

Selain itu dalam khasanah kearifan Arab terdapat perkembangan pengertian yatim yang tidak dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tapi dihubungkan dengan ilmu dan moralitas. Kearifan itu menyatakan: “Orang yatim itu bukanlah orang yang ayahnya telah meninggal, tapi orang yang tidak memiliki ilmu dan budi pekerti”. 

Berdasarkan pemaknaan ini, dalam pendekatan kemanusiaa, yatim yang menjadi subyek yang dihormati kemanusiaan dan diusahakan mulia hidupnya, bukan hanya anak yang terlantar secara ekonomi, tapi juga anak yang terlantar pendidikan, pemeliharaan kesehatan, dan pembinaan akhlaknya. Kemudian dengan memperhatikan substansi keyatiman adalah “kesendirian”, maka orang-orang yang dikucilkan masyarakat dengan alasan tertentu, seperti penyakit dan orientasi seksual, juga dapat dikelompokkan sebagai yatim. Mereka itu adalah ODHA (orang dengan HIV/AIDS), lesbian, homoseksual, dan transgender.

Penutup

Merengkuh mereka yang memiliki orientasi seksual non-hiteroseksual sebagai penyandang masalah seksual dengan pendekatan dakwah dan kemanusiaan tidak berarti melakukan diskriminasi terhadap mereka. Hal ini karena mereka direngkuh untuk diusahakan agar hidup mereka berkualitas lebih baik dan mulia.

*)Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid
Share this article :

Terpopuler

 
Bersama TB Aisyiyah Sulsel
Membangun Kemandirian Masyarakat Berantas Tuberculosis
Copyright © 2012. Aisyiyah Peduli - All Rights Reserved